Record Detail Back

XML

STRATEGI PENINGKATAN KEUNGGULAN DAYA SAING INDUSTRI PELAYARAN PETI KEMAS YANG BEROPERASI DI INDONESIA


Indonesia merupakan negara kepulauan yang mengandalkan laut sebagai
transportasi perdagangan barang dan aktivitas ekonomi. Industri pelayaran peti kemas
yang beroperasi di Indonesia memiliki peran strategis pada konteks tersebut dalam
rangka pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Keunggulan komparatif industri
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia adalah letak geografis yang strategis
dan momentum perdagangan global yang mulai bergeser ke Asia. Meski memiliki
keunggulan kompetitif, industri pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia
belum memiliki keunggulan daya saing. Biaya angkut yang tidak efisien serta peringkat
kinerja logistik yang rendah adalah dua indikator yang menunjukan bahwa industri
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia masih belum berdaya saing.
Penelitian ini memiliki kebaruan kajian yang spesifik dan mendalam tentang
strategi peningkatan keunggulan daya saing industri pelayaran peti kemas. Paradigma
strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi berbasis pasar (MBV).
Fokus penelitian ini adalah penyusunan strategi peningkatan keunggulan daya saing
industri pelayaran peti kemas dengan menggunakan paradigma MBV. Sedangkan lokus
penelitian spesifik pada industri pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia.
Termasuk di dalamnya adalah industri pelayaran peti kemas antar negara maupun
industri pelayaran peti kemas domestik yang beroperasi di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan paradigma MBV dan mendorong penerapan strategi
pada tingkatan negara, industri hingga perusahaan, dengan menjadikan SSCM sebagai
faktor mediatif dan kapabilitas jasa sebagai peningkat keunggulan daya saing industri.
Paradigma MBV cenderung lebih komprehensif dalam memandang manajemen strategi,
karena melibatkan aspek-aspek lingkungan dan pasar. Penelitian terdahulu yang
dilakukan Yang & Lirn (2017), Kuo et al. (2017), Panayides dan Cullinane (2017), dan
Greeve (2009) cenderung pada paradigma RBV dan memilih pendekatan strategi yang
fragmentatif. Adapun, Lee et al. (2014) menggunakan paradigma MBV untuk
memetakan daya saing di tingkatan negara namun untuk industri pelayaran secara
umum, tidak spesifik pada industri pelayaran peti kemas dan hanya bertujuan untuk
membandingkan satu negara dengan negara lainnya.
Penelitian ini mengambil fokus kajian mengenai strategi peningkatan keunggulan
daya saing industri. Sedangkan lokus penelitian ini adalah industri pelayaran peti kemas
di Indonesia, termasuk di dalamnya adalah industri pelayaran peti kemas antar negara
maupun domestik. Penelitian-penelitian tentang industri pelayaran peti kemas
sebelumnya seperti Kuo et al. (2017). Yang dan Wong (2016) Magni (2014), Lirn et al.
(2013), Yang et al. (2009) masih terfokus pada strategi di tingkatan perusahaan dan
orientasinya bukanlah pada keunggulan daya saing. Sementara itu, Lee et al. (2014)
dalam penelitiannya sudah berfokus pada strategi peningkatan keunggulan daya saing di
tingkatan industri negara untuk industri pelayaran secara umum, namun tidak spesifik
pada industri pelayaran peti kemas.
Penelitian ini mengkombinasikan pendekatan dan metodologi gabungan yaitu
kuantitatif (Statistik deskriptif untuk model persepsi dan SEM-PLS) dan kualitatif
(wawancara mendalam dengan pakar). Penelitian ini melibatkan respon dari 103
responden dan 5 orang pakar yang merupakan pelaku dan pengguna jasa terlibat dalam
penelitian yang berlokasi di Indonesia. Penelitian ini menyusun model persepsi
berdasarkan indikator yang khas untuk mengukur keunggulan daya saing industri
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia. Penelitian ini juga menyempurnakan
Model Berlian dengan memasukkan peubah laten pada tingkat industri yakni SSCM dan
pada tingkat perusahaan yakni Kapabilitas Jasa. Hasilnya adalah Model Berlian +
SSCM dan Model Berlian + Kapabilitas Jasa. Penelitian sebelumnya cenderung
membatasi dalam satu metodologi. Selain itu penelitian ini juga melibatkan para pakar
dalam wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus untuk menelaah setiap
regulasi yang dimiliki Indonesia saat ini yang terkait langsung maupun tidak langsung
pada daya saing industri pelayaran peti kemas nasional.
Temuan dari penelitian ini mengkonfirmasi bahwa saat ini industri pelayaran peti
kemas yang beroperasi di Indonesia masih belum cukup berdaya saing. Dari enam
parameter keunggulan daya saing yang disusun dalam penelitian ini, Efisiensi biaya,
reputasi industri, dan jumlah kapal berbendera nasional adalah tiga indikator dengan
nilai persepsi keunggulan daya saing terendah. Penelitian ini juga membuktikan bahwa
peran SSCM dan Kapabilitas Jasa sebagai peubah laten mediatif terkonfirmasi
berpengaruh signifikan dan positif terhadap keunggulan daya saing industri pelayaran
peti kemas.
Penelitian ini juga mengkonstruksi teori baru mengenai optimalisasi kinerja
manajemen rantai pasok berkelanjutan. Teori ini menjelaskan signifikansi pengaruh
empat peubah laten yakni teknologi, orientasi pasar berkelanjutan dan sistem
perdagangan berkeadilan terhadap terwujudnya kinerja manajemen rantai pasok yang
berkelanjutan. Teknologi terkonfirmasi berperan sebagai faktor pengungkit kinerja
SSCM sehingga dapat membangkitkan keunggulan daya saing industri. Selain itu
penelitian ini juga masuk lebih dalam pada tingkatan mikro di perusahaan pelayaran peti
kemas. Hasil dari penelitian ini mengkonfirmasi peran kapabilitas operasional yang
lebih dominan daripada kapabilitas marketing untuk meningkatkan keunggulan daya
saing perusahaan pelayaran peti kemas.
Gena Bijaksana - Personal Name
NONE
electronic file
Indonesia
2018
Disertasi Prodi Manajemen dan Bisnis SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
LOADING LIST...
LOADING LIST...