<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="1975">
<titleInfo>
<title><![CDATA[STRATEGI PENINGKATAN KEUNGGULAN DAYA SAING  INDUSTRI PELAYARAN PETI KEMAS  YANG BEROPERASI DI INDONESIA]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Gena Bijaksana</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2018]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[electronic file]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Indonesia merupakan negara kepulauan yang mengandalkan laut sebagai 
transportasi perdagangan barang dan aktivitas ekonomi. Industri pelayaran peti kemas 
yang beroperasi di Indonesia memiliki peran strategis pada konteks tersebut dalam 
rangka pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Keunggulan komparatif industri 
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia adalah letak geografis yang strategis 
dan momentum perdagangan global yang mulai bergeser ke Asia. Meski memiliki 
keunggulan kompetitif, industri pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia 
belum memiliki keunggulan daya saing. Biaya angkut yang tidak efisien serta peringkat 
kinerja logistik yang rendah adalah dua indikator yang menunjukan bahwa industri 
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia masih belum berdaya saing. 
Penelitian ini memiliki kebaruan kajian yang spesifik dan mendalam tentang 
strategi peningkatan keunggulan daya saing industri pelayaran peti kemas. Paradigma 
strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi berbasis pasar (MBV). 
Fokus penelitian ini adalah penyusunan strategi peningkatan keunggulan daya saing 
industri pelayaran peti kemas dengan menggunakan paradigma MBV. Sedangkan lokus 
penelitian spesifik pada industri pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia. 
Termasuk di dalamnya adalah industri pelayaran peti kemas antar negara maupun 
industri pelayaran peti kemas domestik yang beroperasi di Indonesia. 
Penelitian ini menggunakan paradigma MBV dan mendorong penerapan strategi 
pada tingkatan negara, industri hingga perusahaan, dengan menjadikan SSCM sebagai 
faktor mediatif dan kapabilitas jasa sebagai peningkat keunggulan daya saing industri. 
Paradigma MBV cenderung lebih komprehensif dalam memandang manajemen strategi, 
karena melibatkan aspek-aspek lingkungan dan pasar. Penelitian terdahulu yang 
dilakukan Yang & Lirn (2017), Kuo et al. (2017), Panayides dan Cullinane (2017), dan 
Greeve (2009) cenderung pada paradigma RBV dan memilih pendekatan strategi yang 
fragmentatif. Adapun, Lee et al. (2014) menggunakan paradigma MBV untuk 
memetakan daya saing di tingkatan negara namun untuk industri pelayaran secara 
umum, tidak spesifik pada industri pelayaran peti kemas dan hanya bertujuan untuk 
membandingkan satu negara dengan negara lainnya. 
Penelitian ini mengambil fokus kajian mengenai strategi peningkatan keunggulan 
daya saing industri. Sedangkan lokus penelitian ini adalah industri pelayaran peti kemas 
di Indonesia, termasuk di dalamnya adalah industri pelayaran peti kemas antar negara 
maupun domestik. Penelitian-penelitian tentang industri pelayaran peti kemas 
sebelumnya seperti Kuo et al. (2017). Yang dan Wong (2016) Magni (2014), Lirn et al. 
(2013), Yang et al. (2009) masih terfokus pada strategi di tingkatan perusahaan dan 
orientasinya bukanlah pada keunggulan daya saing. Sementara itu, Lee et al. (2014) 
dalam penelitiannya sudah berfokus pada strategi peningkatan keunggulan daya saing di 
tingkatan industri negara untuk industri pelayaran secara umum, namun tidak spesifik 
pada industri pelayaran peti kemas. 
Penelitian ini mengkombinasikan pendekatan dan metodologi gabungan yaitu 
kuantitatif (Statistik deskriptif untuk model persepsi dan SEM-PLS) dan kualitatif 
(wawancara mendalam dengan pakar). Penelitian ini melibatkan respon dari 103 
responden dan 5 orang pakar yang merupakan pelaku dan pengguna jasa terlibat dalam 
penelitian yang berlokasi di Indonesia. Penelitian ini menyusun model persepsi 
berdasarkan indikator yang khas untuk mengukur keunggulan daya saing industri 
pelayaran peti kemas yang beroperasi di Indonesia. Penelitian ini juga menyempurnakan 
Model Berlian dengan memasukkan peubah laten pada tingkat industri yakni SSCM dan 
pada tingkat perusahaan yakni Kapabilitas Jasa. Hasilnya adalah Model Berlian + 
SSCM dan Model Berlian + Kapabilitas Jasa. Penelitian sebelumnya cenderung 
membatasi dalam satu metodologi. Selain itu penelitian ini juga melibatkan para pakar 
dalam wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus untuk menelaah setiap 
regulasi yang dimiliki Indonesia saat ini yang terkait langsung maupun tidak langsung 
pada daya saing industri pelayaran peti kemas nasional. 
Temuan dari penelitian ini mengkonfirmasi bahwa saat ini industri pelayaran peti 
kemas yang beroperasi di Indonesia masih belum cukup berdaya saing. Dari enam 
parameter keunggulan daya saing yang disusun dalam penelitian ini, Efisiensi biaya, 
reputasi industri, dan jumlah kapal berbendera nasional adalah tiga indikator dengan 
nilai persepsi keunggulan daya saing terendah. Penelitian ini juga membuktikan bahwa 
peran SSCM dan Kapabilitas Jasa sebagai peubah laten mediatif terkonfirmasi 
berpengaruh signifikan dan positif terhadap keunggulan daya saing industri pelayaran 
peti kemas. 
Penelitian ini juga mengkonstruksi teori baru mengenai optimalisasi kinerja 
manajemen rantai pasok berkelanjutan. Teori ini menjelaskan signifikansi pengaruh 
empat peubah laten yakni teknologi, orientasi pasar berkelanjutan dan sistem 
perdagangan berkeadilan terhadap terwujudnya kinerja manajemen rantai pasok yang 
berkelanjutan. Teknologi terkonfirmasi berperan sebagai faktor pengungkit kinerja 
SSCM sehingga dapat membangkitkan keunggulan daya saing industri. Selain itu 
penelitian ini juga masuk lebih dalam pada tingkatan mikro di perusahaan pelayaran peti 
kemas. Hasil dari penelitian ini mengkonfirmasi peran kapabilitas operasional yang 
lebih dominan daripada kapabilitas marketing untuk meningkatkan keunggulan daya 
saing perusahaan pelayaran peti kemas.</note>
<subject authority=""><topic><![CDATA[sscm]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[pelayaran peti kemas]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[keunggulan daya saing]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[kapabilitas jasa]]></topic></subject>
<subject authority=""><topic><![CDATA[indonesia]]></topic></subject>
<classification><![CDATA[NONE]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Repository Local Content Institut Transportasi dan Logistik TRISAKTI]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="1377" url="" path="/Gena Bijaksana-Disertasi S3-2019.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Disertasi]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[1975]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2021-12-07 10:49:30]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2021-12-07 10:49:30]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>